Mengalami Quarter Life Crisis? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Penyebab dan Cara Mengatasi Qurater Life Crisis

Apa sih penyebab seseorang mengalami quarter life crisis? Seperti apa cara menghadapinya? Yuk, baca artikel ini sampai habis!


Di umur-umur sekarang, pernah nggak kamu merasa kok hidup jadi nggak jelas dan serba salah, ya? Masalah yang datang kayak nggak ada habisnya. Ya, masalah kerjaan, ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, masalah jodoh, dan kehidupan sosial. Akibatnya jadi susah tidur, karena setiap malam overthinking. Jadi sering kepikiran, khawatir, gelisah, dan bingung soal masa depan.

“Sebenernya gue hidup nih ngapain sih?”

Kok hidup gue nggak kayak orang-orang ya, jelas gitu timeline hidupnya, pada download di mana sih?”

Pikiran dan pertanyaan-pertanyaan seperti itu kurang lebih yang muter-muter di kepala.

Nggak usah takut, ini fase yang wajar, kok. Kamu nggak sendiri. Sebanyak 86% dari generasi milenial mengaku merasakan fase ini: Kebingungan, kesepian, takut, gelisah, stres, hingga depresi. Ini disebut quarter life crisis (QLC), biasanya dialami seseorang ketika menginjak usia 20-an hingga awal 30-an.

fakta-generasi-milenial-mengalami-quarter-life-crisis

Kalau lagi ada di fase ini, berarti kita sadar kalau ada sesuatu yang harus diubah dari hidup kita biar jadi lebih baik. Tapi, kita nggak tahu apa yang harus diubah, dan bagaimana caranya.

Misalnya, kamu merasa hidupmu gagal atau nggak jelas karena melihat teman-temanmu sudah mulai bekerja, sedangkan kamu masih usaha dapat kerja. Kamu jadi kepikiran “Kok orang-orang bisa dapat panggilan interview, tapi gue nggak ya?” Akhirnya sadar kayaknya ada yang salah dari strategi cari kerja dan harus ada yang diubah. Tapi nggak tahu apa, entah CV-nya, entah skill kita yang kurang, atau hal lain.

Baca juga: Cara Masuk Flow State: Sebuah Zona untuk Bahagia dan Produktif

Penyebab QLC biasanya karena kamu menghadapi situasi atau kondisi sebagai orang dewasa untuk pertama kalinya. Seperti:

  1. Susah cari kerja atau jenjang karier yang stuck di situ-situ aja.
  2. Pertama kali menjalani hidup mandiri (merasa nggak ada yang peduli dan kesepian).
  3. Menjalani hubungan yang arahnya serius untuk pertama kalinya. Atau justru putus cinta padahal sudah punya rencana serius. Misalnya, salah satu mau cepet-cepet nikah tapi kamu merasa belum siap mental dan finansial.
  4. Membuat keputusan baru sendiri untuk kehidupan jangka panjang, seperti memutuskan untuk berbisnis setelah lulus kuliah, bukan bekerja kantoran.
  5. Takut terjadi perubahan besar dalam hidup tapi kamu nggak tahu harus apa kalau itu kejadian.

5-fase-quarter-life-crisis-menurut-robinson

 

Bagaimana cara menghadapi Quarter Life Crisis?

Berikut adalah beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi quarter life crisis:

1. Stop membandingkan diri sendiri

Salah satu yang bikin kita sering merasa gagal, kalah, atau terlambat adalah terlalu banyak melihat orang lain. Biasanya lewat sosial media. Namanya juga sosial media, yang di-upload kan nggak semua. Biasanya cuma yang senang-senang aja. Jadi, cuma bagian senang-senang aja yang kamu lihat.

IoBM Pakistan melakukan penelitian tentang pengaruh penggunaan sosial media dan self-esteem, hasilnya, peningkatan penggunaan media sosial bisa menyebabkan penurunan self-esteem.

Misalnya, kamu lihat Instagram story temanmu sedang bekerja di perusahaan X. Dia kelihatan bahagia. Tapi kamu nggak tahu kalau misalnya dia sering lembur sampai jam 3 pagi, telat makan, atau keluar masuk rumah sakit karena tipes. Terus akhirnya kamu merasa gagal karena tidak sebahagia dia dengan pekerjaannya.

Daripada waktumu habis untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain, terus akhirnya merasa gagal dan kalah. Berhenti. Fokus dengan dirimu sendiri. Kamu pasti punya tujuan sendiri untuk hidupmu, dan itu bukan hidup seperti orang lain.

 

2. Ini fase yang normal

Seperti yang kita tahu, Quarter Life Crisis adalah fase yang normal. 86% orang seumuran kamu merasakan yang sama. Jadi bukan cuma kamu, orang Kelapa Gading, Depok, sampai Dubai juga ngerasa hal yang sama.

Everyone struggles as well.

Nggak ada yang salah dari diri kamu. Anggap saja ini adalah satu fase dari hidup yang harus kamu lewati biar bisa naik level. Kayak sekolah, makin tinggi jenjang kelasnya, makin sulit materi pelajarannya. Tapi, jadi makin dekat sama kelulusan.

Sebenarnya, kekhawatiran, ketakutan, kebingungan, kegelisahan, itu perasaan yang sering kita alami, gak sih? Tapi, makin dewasa, hal yang ditakuti beda. Kalau dulu kita ketar-ketir soal hasil SNMPTN atau SBMPTN, sekarang jadi takut tentang hasil seleksi kerja. Perasaannya sama, tapi levelnya beda.

 

3. Sabar dalam berproses

Penelope Trunk, salah satu pendiri Brazen Careerist pernah bilang kalau orang-orang di usia 20-an, sering menganggap hidup sebagai kompetisi. Padahal, setiap orang punya kecepatan, garis start, track, dan garis finish-nya sendiri. Hidup bukan kompetisi. Tujuan dan ukuran sukses setiap orang juga beda-beda.

Jadi, kalau kamu melihat proses orang lain, kok kayaknya lancar, beruntung, dan cepat, itu bukan salahnya. Bukan salah kamu juga. Ya, emang begitu jalannya..

Slow progress is still progress, kok.

Jadi, jangan terlalu keras ke diri sendiri dengan menaruh ekspektasi yang tinggi. Nikmati dan sabar aja sama prosesnya. Percaya kalau fase ini pasti akan selesai. Usaha, kan, nggak mengkhianati hasil.

 

4. Cerita ke teman yang suportif 

Ada sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Social Psychology, dukungan sosial bisa memengaruhi persepsi kita terhadap tantangan. Dari yang awalnya melihat tantangan sebagai gunung terjal, misalnya, bisa berubah seperti bukit Teletubbies.

Sayangnya, beberapa dari kita biasanya malu buat cerita tentang kegagalan atau masalah yang dihadapi. Padahal dengan cerita, paling enggak, kita bisa mengeluarkan isi kepala lewat bicara, jadi si masalah nggak terkungkung di kepala aja.

Cerita tentang masalah yang kamu hadapi ke orang terdekat kayak sahabat, bisa bikin kita dapat sudut pandang baru, input positif, atau paling enggak kita jadi sadar kalau kita nggak sendirian. Masih ada yang mau dengerin kita dan ngasih support.

Jadi, coba ingat-ingat lagi siapa bestie kamu yang paling bisa mengerti dan paling nyaman diajak cerita atau bertukar pikiran.

Baca juga: Toxic People yang Perlu Kamu Hindari di Tempat Kerja

 

5. Buat standarmu sendiri

Kita, hidup pada masa di mana kita berhasil atau enggak, kita good enough atau nggak berdasarkan standar sosial atau penilaian orang lain.

Misalnya, di Indonesia, nih. Perempuan harus menikah di umur 25 misalnya, harus punya anak umur segini, atau harus punya gaji segini, dan lainnya. Kalau enggak, nanti dianggap gagal.

Setiap orang punya prioritas yang beda-beda. Bisa jadi kamu mau punya hidup yang stabil dulu secara mental dan finansial baru akhirnya menikah. Atau ada alasan lain dibalik sebuah keputusan yang kayaknya orang lain nggak perlu tahu.

Jadi, jangan terlalu berpatokan dengan standar yang dibikin lingkungan sosial. Kamu yang menjalani hidupmu, tentukan sendiri standar hidup, kebahagiaan, dan kesuksesanmu.


Quarter Life Crisis itu adalah sesuatu yang normal. Tapi, jangan terlalu larut di ketakutan, kebingungan, dan kegelisahan. Ubah keragu-raguanmu jadi tindakan yang bisa membantu kamu untuk keluar dari fase ini. Kalau perasaan-perasaan itu mengganggu pikiran dan aktivitas, jangan malu dan ragu untuk minta bantuan profesional, ya!

Kamu juga bisa mengikuti kelas pengembangan diri seperti teknik mengelola stres atau cara meningkatkan kecerdasan emosional dari Skill Academy.

SKill Academy - CTA

Referensi: 

Vartanian, Varci. ‘Powering Through Your Quarter Life Crisis’ [daring]. Tautan: https://www.themuse.com/advice/powering-through-your-quarterlife-crisis (Diakses pada: 12 April 2021)

The Guardian. 2011. ‘The Quarter Life Crisis: Young, Insecure, and Depressed’ [daring]. Tautan: https://www.theguardian.com/society/2011/may/05/quarterlife-crisis-young-insecure-depressed

Kolmar, Chris. 2020. ‘Quarter Life Crisis: What Is It and How to Handle It’ [daring]. Tautan: https://www.zippia.com/advice/quarter-life-crisis/ (Diakses pada: 12 April 2021)

Angone, Paul. 2016. ‘ 7 Cures for Your Quarter Life Crisis’ [daring]. Tautan: https://www.relevantmagazine.com/life5/7-cures-your-quarter-life-crisis/ (Diakses pada: 13 April 2021)

 

Devi Lianovanda