Tunjangan Hari Raya (THR): Cara Menghitung dan Cermat Mengelolanya

Salsabila Nanda Apr 18, 2022 • 7 min read


thr adalah

Artikel ini membahas apa itu THR, cara menghitung, dan cara bijak mengelolanya!

Satu hal yang juga ditunggu-tunggu saat Idulfitri adalah THR alias Tunjangan Hari Raya. Jumlahnya bisa mencapai satu kali gaji bulanan atau sesuai dengan perhitungan prorata bagi karyawan dengan masa kerja kurang dari setahun. 

Tapi, THR itu apa, sih? Bagaimana cara menghitung Tunjangan Hari Raya (THR) dan cara bijak mengelolanya? Yuk, simak penjelasan lengkapnya!

Arti Tunjangan Hari Raya (THR)

Tunjangan Hari Raya atau THR adalah pendapatan di luar gaji atau non-upah yang wajib dibayarkan oleh perusahaan/ pemberi kerja kepada pekerja menjelang Hari Raya Keagamaan.

Hari Raya Keagamaan yang dimaksud adalah:

  1. Hari Raya Idulfitri bagi pekerja yang beragama Islam.
  2. Hari Raya Natal bagi pekerja yang beragama Kristen Katolik dan Kristen Protestan. 
  3. Hari Raya Nyepi bagi pekerja yang beragama Hindu.
  4. Hari Raya Waisak bagi pekerja yang beragama Budha.
  5. Hari Raya Imlek bagi pekerja yang beragama Konghucu.

THR akan diberikan oleh perusahaan kepada pekerja sesuai dengan Hari Raya Keagamaan masing-masing. Tunjangan Hari Raya ini diatur dalam Permenaker No 6 tahun 2016.

Baca juga: PKWT dan PKWTT, Apa Sih Perbedaan Keduanya?

 

Cara menghitung Tunjangan Hari Raya (THR)

“Kalau baru kerja 2 bulan, dapat THR juga nggak ya?” 

Beberapa dari kamu yang memiliki masa kerja kurang dari setahun mungkin bertanya-tanya demikian. Untuk lebih jelasnya, berikut ketentuan THR berdasarkan Permenaker No 6 tahun 2016 pasal 3:

  1. Pekerja yang sudah mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus menerus atau lebih, diberikan THR sebesar 1 bulan upah;
  2. Pekerja yang mempunyai masa kerja 1 bulan secara terus menerus tapi kurang dari 12 bulan, diberikan THR sesuai masa kerja atau prorata;
  3. Bagi pekerja yang bekerja berdasarkan perjanjian harian lepas, dan sudah mempunyai masa kerja 12 bulan atau lebih, upah 1 bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima dalam 12 bulan terakhir sebelum Hari Raya Keagamaan;
  4. Bagi pekerja yang bekerja berdasarkan perjanjian harian lepas dengan masa kerja kurang dari 12 bulan, upah 1 bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima setiap bulan selama masa kerja.

Jadi, jika mengacu ke Permenaker no 6 tahun 2016, kalau masa kerja kamu sudah satu bulan secara terus menerus, sudah berhak dapat THR, ya.

Contoh cara menghitung THR sesuai masa kerja di bawah 12 bulan:

Shin Ha Ri bekerja di PT Serba Bisa dengan gaji per bulan Rp5.000.000. Ia baru bekerja di perusahaan tersebut selama 3 bulan, maka THR yang akan diterima Shin Ha Ri adalah:

(masa kerja/12 bulan) x gaji 1 bulan

(3 bulan/12 bulan) x Rp5.000.000 = Rp1.250.000

Karena Shin Ha Ri baru bekerja selama 3 bulan di PT Serba Bisa, maka Tunjangan Hari Raya yang ia terima adalah Rp1.250.000.

 

Cara mengelola THR dengan cermat dan bijak

Agar Tunjangan Hari Raya nggak cuma numpang lewat dan habis sia-sia, berikut ada 4 cara mengelola THR dengan bijak dan cermat!

1. Membayar sisa hutang

Ini nih yang sering dilupakan sebagian orang, ckckck. Kalau kamu punya tagihan Credit Card atau paylater, yuk segera lunasi agar bunganya tidak membengkak. FYI, telat membayar utang mengakibatkan reputasi kamu di bank jadi jelek lho. Ada yang namanya BI checking, yakni pengecekan riwayat pembayaran utang oleh nasabah.

Keseringan menunggak akan membuat data diri kamu ditolak saat mengajukan pinjaman dengan nominal besar. Padahal, bisa aja kan, uang pinjamannya mau digunakan untuk sesuatu yang lebih penting, seperti: renovasi rumah atau biaya kuliah adik.

 

2. Belanja kebutuhan lebaran

Setelah utang lunas, baru deh beli kebutuhan lebaran. Buat yang sudah berkeluarga atau tinggal dengan orangtua, jangan lupa menyisihkan THR untuk mereka ya. Orangtua juga punya wishlist seperti anak-anaknya, lho. Siapa tahu Ayah mau beli sarung baru? Atau Ibu pengen makan kue kering favoritnya? 

Tenang, kamu tetap bisa belanja kok. Apalagi banyak diskon Idulfitri bertebaran di aplikasi belanja online maupun pusat perbelanjaan. Tapi, pikirin lagi deh, kira-kira perlu nggak sih punya 3 stel baju lebaran? Beli kamera atau iPhone 13 ya? Supaya terhindar dari impulsive buying, kamu bisa menerapkan 7 Days Rule seperti yang tertera di gambar berikut:

cara mengelola THR

3. Dana Darurat

Dana darurat adalah sejumlah uang yang dialokasikan secara khusus untuk digunakan saat menghadapi berbagai kondisi tak terduga. Contohnya: Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), bencana alam, reparasi kendaraan, dan lain-lain. Idealnya, besaran dana darurat adalah 6 kali gaji bulanan bagi pegawai lajang, serta 9-12 kali gaji untuk mereka yang sudah berkeluarga.

Jumlah tersebut nggak harus dipenuhi dalam satu waktu, melainkan bisa dicicil dengan menyisakan 10% dari upah per bulan. Kalau kamu sudah mempraktekannya, uang THR juga bisa kamu tambahkan ke rekening dana darurat lho. Jika belum, tak perlu khawatir, pelan-pelan aja ngumpulinnya, oke?

 

4. Investasi

Masih ada sisa THR dan bingung cara menghabiskannya? Investasi mungkin cocok untukmu. Bagi pemula, investasi dapat dimulai dari reksadana yang tidak membutuhkan modal terlalu besar, sehingga resikonya lebih rendah dibanding saham. Pembukaan rekening reksadana pun dapat dilakukan melalui aplikasi secara online.  Nantinya, uang kamu dikelola oleh manajer investasi berpengalaman, jadi tidak perlu memantau pergerakan harga terus-menerus. 

Selain berbentuk materi, investasi soft skill dan hard skill juga penting lho. Sebab, tren pekerjaan dapat berubah dari tahun ke tahun. Kalau kemampuanmu itu-itu aja, kamu nggak bakal mampu bersaing dengan yang lain. 

 

Belajar skill baru bisa dari rumah kok. Bermodalkan koneksi internet, kamu berkesempatan belajar berbagai materi dan pelatihan di Skill Academy. Harga kelasnya mulai 100 ribuan serta dipandu oleh praktisi andal. Mau terjun di industri kreatif atau fashion? Ada Raditya Dika, Nicholas Saputra, Yoga Arizona, serta Ivan Gunawan yang siap ngasih kamu materi lengkapnya. Yuk, belajar bareng mereka!

Itu dia cara menghitung THR dan 4 cara cermat dan bijak mengelola THR bagi karyawan. Semoga kita bisa mengontrol keuangan menjadi lebih baik dan terhindar dari perilaku konsumtif. Selamat Hari Raya Idulfitri!

Kelas Sukses Kerja Skill Academy

Referensi:

Paylater [Daring]. Tautan: https://katadata.co.id/pingitaria/digital/5e9a4e6b949f1/pahami-risiko-pay-later-fitur-penggoda-milenial-berbelanja (diakses 07 Mei 2021)

Alokasi Dana Darurat [Daring]. Tautan: https://www.cermati.com/artikel/berapa-banyak-jumlah-dana-darurat-yang-harus-dipersiapkan (diakses 07 Mei 2021)

Keunggulan Reksa Dana [Daring]. Tautan: https://www.bareksa.com/berita/reksa-dana/2015-06-05/inilah-yang-membuat-reksa-dana-unggul-dibanding-produk-investasi-lainnya (diakses 09 Mei 2021)

7 Days of Rule [Daring]. Tautan: https://medium.com/writers-blokke/7-day-rule-for-expenses-5b238a3bac93 (diakses 09 Mei 2021)

Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 6 tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan [daring]. Tautan: https://jdih.kemnaker.go.id/asset/data_puu/permenaker_6_2016.pdf (diakses 12 April 2022)

(Artikel ini diperbarui pada 14 April 2022)

Profile

Salsabila Nanda

Anak broadcasting yang cita-citanya mau jadi PR, tapi malah jadi content writer. Siang kerja, malam nonton teen drama. Terima kasih sudah baca tulisanku!

Beri Komentar