Kamu Generasi Sandwich? Ini 6 Cara Memutus Rantainya!

header-sandwich-generation

Artikel ini membahas apa itu generasi sandwich dan 6 cara memutuskan rantainya.

Kata Dilan, rindu itu berat. Hm, dia belum tahu rasanya jadi generasi sandwich.

Pernah nggak ngalamin baru gajian tapi uangnya langsung habis buat bayar ini itu? Tapi, bukan buat belanja online, investasi, atau beli barang baru. Ada orang tua, keluarga sendiri, dan anak yang harus kamu bantu kebutuhan finansialnya.

Terhimpit kebutuhan finansial orang tua dan anak. Seperti isian sandwich yang terjepit di antara dua roti. Makanya, orang-orang yang ada di posisi ini sering disebut dengan generasi sandwich. Kalau belum punya anak, ya berarti menghidupi orang tua, diri sendiri, atau keluarga inti lainnya seperti adik, misalnya.

Dorothy A. Miller, profesor sekaligus direktur praktikum dari Universitas Kentucky, adalah orang yang pertama kali memperkenalkan istilah ini. generasi sandwich diperkenalkan pada tahun 1981 dalam jurnal The Sandwich Generation: Adult Children of The Aging.

Di Indonesia, ini bukan sesuatu yang asing. Sudah seperti budaya kalau seorang anak harus berbakti kepada orang tua. Sehingga merawat orang tua di masa lansia mereka dianggap sebagai balas budi.

presentase-tinggal-bersama-lasia-BPs-2019

Data BPS tahun 2019 menunjukkan persentase lansia yang tinggal dalam 3 generasi mencapai 40,64%. Maksudnya adalah ada 3 generasi yang tinggal dalam 1 rumah. Misalnya, kamu tinggal bersama orang tua dan anakmu, atau kamu tinggal bersama orang tua dan kakek nenek. Berarti, bisa jadi di antara 40,64% ini ada yang harus membiayai generasi selain dirinya.

3-jenis-sandwich-generation

Kebayang nggak susahnya ngatur keuangan untuk menghidupi banyak orang secara bersamaan? Bayar cicilan, biaya pendidikan anak, perawatan kesehatan orang tua, kebutuhan pribadi, dan juga persiapan masa tua.

Kondisi ini membuat generasi sandwich jadi lebih mudah stres. Selain karena beban finansial yang berat, mereka juga harus menyeimbangkan peran untuk merawat orang tua dan anak. Hal ini membuat mereka sulit memperhatikan diri sendiri. Stres ini bisa mengganggu kehidupan sosial, rumah tangga, kesehatan fisik, dan juga pekerjaan.

Kenapa seseorang bisa menjadi generasi sandwich?

Generasi sandwich bisa terjadi karena berbagai penyebab yang membuat generasi sebelumnya sulit mengelola keuangan dan menyiapkan dana untuk masa tua. Karena manajemen keuangan yang buruk, perilaku konsumtif, pendapatan yang rendah, biaya hidup yang tinggi, nggak bekerja di sektor yang memberikan JHT, atau dulunya mantan generasi sandwich.

Dari penelitian yang dilakukan prakarsa.org, 93% responden dengan usia produktif sadar bahwa dana pensiun atau jaminan hari tua itu penting. Sayangnya, cuma 11% yang punya persiapan untuk itu.

Beban keuangan yang berat tak jarang membuat generasi sandwich mengorbankan tabungan atau dana pensiun untuk mencukupi kebutuhan orang-orang yang mereka tanggung. Ini yang bikin mereka jadi nggak punya dana pensiun dan akhirnya bergantung ke generasi selanjutnya. Akhirnya anaknya jadi generasi sandwich juga, dan rantai ini jadi semakin panjang.

Memutus rantai generasi sandwich, apa bisa?

Bukan hal mudah untuk memutus rantai generasi sandwich. Tapi bukan berarti mustahil. Mungkin akan sulit keluar dari lingkaran ini, tapi kamu bisa membuat dirimu sebagai generasi terakhir. Masa lalu emang nggak bisa diubah, tapi masa depan yang lebih baik masih bisa disiapkan.

Kuncinya adalah perencanaan keuangan yang baik.

Perencanaan keuangan yang baik akan membuat masa tua kamu lebih terjamin, dan anak-anakmu bisa menjalani kehidupan yang lebih bebas.

Pertanyaannya, bagaimana cara membuat perencanaan keuangan yang baik?

1. Catat keuangan

Mencatat arus kas, mulai dari pemasukan dan pengeluaran. Terdengar sepele, tapi catatan ini membantu kamu nge-track keuangan tiap bulan. Nantinya, dari catatan ini kamu bisa melihat, kira-kira ada nggak ya keperluan yang budget-nya bisa dikurangi. Atau ada nggak ya keperluan yang bisa dihilangkan.

Misalnya, budget makan siang di kantor ternyata lumayan besar. Kayaknya bisa bawa bekal dari rumah aja biar lebih hemat.

Mencatat keuangan bisa dengan berbagai cara. Bisa ditulis di buku, bisa juga di Ms. Excel atau Spreadsheet. Kalau mau yang lebih praktis lagi, sekarang ada banyak aplikasi untuk mencatat keuangan. Pilih saja mana yang paling sesuai buat kamu.

2. Menyiapkan program pensiun

Kebutuhan hidup akan terus ada meskipun kamu sudah tua. Sayangnya, ketika lansia, nggak cuma fisik yang menua, tapi produktivitas secara ekonomi juga. Cara agar bisa hidup cukup saat tua adalah punya dana pensiun.

Kamu yang umurnya masih 20-30 tahunan mungkin ngerasa masa lansia tuh masih lama. Tapi apa salahnya menyiapkan masa tua yang bahagia dari sekarang, kan?

Ikuti kelas: Tenang di Hari Tua, Siapkan Dana Pensiun Dari Sekarang

Beruntungnya, sekarang banyak lembaga keuangan yang bikin program pensiun. Nggak cuma pekerja, masyarakat umum juga bisa ikut program ini.

Di program ini, kamu membayar iuran tiap bulan sejak jadi peserta sampai berhenti bekerja. Nah, iuran kamu nantinya akan diinvestasikan oleh lembaga dana pensiun ke dalam campuran investasi yang aman. Jadi dananya bisa berkembang. Mantab kan?

3. Kelola penghasilan dengan bijak

Kamu bisa pakai rumus 50/30/20 atau 40/30/20/10 untuk mengelola gaji.

Rumus-rumus ini membagi penghasilan ke dalam beberapa kategori. 50% untuk kebutuhan seperti makan, tagihan listrik, belanja bulanan, dan lainnya. 30%nya untuk keinginan dan hiburan biar nggak terlalu stres. Dan 20%nya untuk ditabung.

Baca juga: Tips Menabung Meski Gaji Pas-pasan!

Atau rumus 40/30/20/10. 40% untuk kebutuhan, 30% untuk cicilan, 20% ditabung, dan 10% untuk kebaikan.

Pilih rumus yang paling sesuai. Rumus manapun yang kamu pakai, usahakan menabung di awal. Kalau di akhir, biasanya malah habis terpakai untuk ini dan itu.

4. Menambah sumber penghasilan

Untuk memperbaiki kondisi keuangan, kamu juga bisa menambah sumber penghasilan. Kalau awalnya sumber pendapatan hanya dari gaji, mungkin kamu bisa coba buka bisnis, atau punya side job yang bisa menambah penghasilan.

cara-memutus-rantai-generasi-sandwich

Biar nggak terasa berat, penghasilan tambahan ini bisa dimulai dari hobi yang mungkin bisa menghasilkan. Misalnya, kamu hobi fotografi, bisa mengambil side job buat foto di weekend. Atau punya hobi masak, terus jualan dessert box, atau buka usaha catering, misalnya. Kalau kamu seorang pekerja, bisa pakai sistem pre order alias PO di Senin-Jumat, terus jualan di Sabtu-Minggu.

Nanti setelah punya penghasilan tambahan dan kondisi keuangan jadi lebih baik, jangan boros ya.

5. Bicara dengan anggota keluarga

Membicarakan soal uang ke anggota keluarga mungkin nggak biasa buat sebagian orang karena takut berakhir canggung. Tapi, biar nggak memberatkan kamu, bicara. Kalau punya saudara, ajak mereka untuk ikut menanggung kebutuhan finansial orang tua. Biar terasa lebih ringan. Tapi, kalau kamu anak tunggal, coba ngomong ke orang tua. Beritahu kemampuan finansial kamu dan juga kebutuhan yang harus kamu tanggung.

Jangan memaksakan menanggung kebutuhan orang tua di luar batas kemampuan. Apalagi sampai berutang. Makin nambah lagi beban finansial karena punya cicilan utang di bank. Coba terbuka aja, biar orang tua kamu mengerti dan nggak salah paham menganggap kamu pelit atau nggak mau mengurus mereka.

6. Punya asuransi kesehatan

Makin tua, kekuatan tubuh akan menurun dan lebih gampang sakit. Apalagi kalau pas muda jarang olahraga dan jajan junk food terus. Makin hari, biaya kesehatan makin mahal. Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin juga mengatakan bahwa kenaikan biaya kesehatan lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi tahunan. Tentunya ini memberatkan semua orang.

Karena itu, kamu harus punya asuransi kesehatan. Untuk apa? Dengan asuransi kesehatan, biaya pengobatan, dokter, rawat inap, sampai operasi akan ditanggung perusahaan asuransi. Tapi sesuai kontrak dan kesepakatan antara kamu dan perusahaan asuransi tersebut.

Jadi generasi sandwich memang terasa berat. Kamu memikul beban 2-3 kali lebih berat daripada orang lain. Mungkin pernah terlintas di pikiranmu “Kenapa harus gue, sih? Kenapa nggak orang lain aja?” Hidup kalau dipertanyakan memang terasa berat. Tapi, kamu selalu punya kesempatan untuk mempersiapkan masa depan yang bahagia.

Dari sini, kita semua jadi belajar. Ternyata perencanaan keuangan dan punya dana pensiun di hari tua memang sepenting itu.

Kamu bisa belajar untuk merubah perencanaan keuangan dan menyiapkan dana pensiunmu dari sekarang. Belajar masalah keuangan bisa dari mana saja. Salah satunya dengan membeli kelas perencanaan keuangan dan persiapan dana pensiun dari Skill Academy. Instruktur kelasnya adalah mereka yang memang ahli di bidang keuangan. Jadi kamu beneran belajar dari ahlinya.

SKill Academy - CTA

Referensi:

Grey, Hannah. ‘Sandwich Generation 101: Who They Are & How to be The Last’ [daring]. Tautan: https://www.homage.sg/resources/sandwich-generation/ (Diakses pada: 19 Mei 2019)

Hoyt, Jeff. 2021. ‘The Sandwich Generation’ [daring]. Tautan: https://www.seniorliving.org/caregiving/sandwich-generation/ (Diakses pada: 19 Mei 2021)

Otoritas Jasa Keuangan. ‘Beban Berat Jadi Generasi Sandwich, Kamu Salah Satunya?’ [daring]. Tautan: https://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/CMS/Article/20570 (Diakses pada: 20 Mei 2021)

Sun Life. 2020. ‘Financial Planning for Sandwich Generation’ [daring]. Tautan: https://www.sunlife.co.id/en/life-moments/building-a-family/good-financial-planning/ (Diakses pada: 20 Mei 2021)

Prakarsa. 2021. ‘Sejahtera di Masa Lansia: Aspirasi Bantuan Iuran Jaminan Sosial Ketenagakerjaan’ [daring]. Tautan: https://repository.theprakarsa.org/media/335237-policy-brief-sejahtera-di-masa-lansia-eb063b5b.pdf (Diakses pada: 20 Mei 2021)

Devi Lianovanda