Stakeholder: Definisi, Jenis, Contoh, Beserta Perannya dalam Bisnis

Intan Aulia Husnunnisa Des 8, 2022 • 11 min read


stakeholder-adalah

Apakah kamu mengira bahwa stakeholder hanya terdiri dari CEO atau pemilik suatu perusahaan saja? Jika iya, artinya kamu belum memahami pengertian stakeholder yang sebenarnya. Simak penjelasan mengenai stakeholder di artikel ini!

--

Dalam suatu perusahaan biasanya terdiri dari berbagai stakeholder. Namun, perlu diingat bahwa stakeholder bukan hanya berlaku di dunia kerja atau bisnis. Pasalnya, istilah ini pun sering muncul di berbagai lembaga atau instansi seperti perguruan tinggi dan juga pemerintahan.

Sayangnya, saat ini masih banyak orang yang menganggap bahwa sebutan stakeholder hanya berlaku bagi mereka yang memiliki jabatan tinggi. Padahal, itu bukanlah pengertian dari stakeholder.

Lalu, sebetulnya apa yang dimaksud dengan stakeholderYuk, baca penjelasannya melalui artikel ini!

 

Apa itu Stakeholder?

Dikutip dari Corporate Finance Institute, pemangku kepentingan atau stakeholder adalah individu, kelompok, atau pihak yang memiliki kepentingan dalam suatu organisasi (perusahaan) yang hasil tindakannya dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh jalannya bisnis.

Beberapa contoh dari stakeholder adalah karyawan, pelanggan, pemegang saham, masyarakat umum, dan pemerintah.

 

Apa Peran Stakeholder dalam Bisnis?

Pada dasarnya, sebuah bisnis tidak dapat bekerja sendiri. Untuk itu, perusahaan harus berhubungan dengan para stakeholder agar pengembangan dan tujuan bisnis dapat tercapai.

Contoh, jika sebuah perusahaan ingin men-develop suatu proyek/produk baru, maka perusahaan tersebut wajib untuk menentukan siapa stakeholder-nya, baik secara langsung ataupun tidak. Hal ini penting agar perusahaan dapat mengidentifikasi tujuan dan harapan terkait proyek yang akan dieksekusi.

 

Perbedaan Stakeholder dan Shareholder

Perbedaan stakeholder dan shareholder terletak pada kepentingannya. Shareholder adalah pemilik saham sebuah perusahaan, sedangkan stakeholder adalah seseorang yang dipengaruhi oleh (atau memiliki "saham") project yang sedang berjalan.

Stakeholder merupakan pemangku kepentingan yang memiliki keterikatan dengan perusahaan dalam jangka waktu yang panjang. Sementara itu, shareholder bisa menjual saham yang mereka miliki kapan pun untuk membeli saham lain yang berbeda. Tetapi, tidak semua bisnis memiliki shareholder.

Stakeholder dan shareholder bisa jadi memiliki sudut pandang atau perspektif yang berbeda dalam menjalankan sebuah bisnis. Misalnya, dalam proses produksi, perusahaan bisa saja lebih memilih untuk menggunakan bahan baku murah, tetapi tidak aman untuk para pekerja.

Secara cost, mungkin kebijakan tersebut dapat meningkatkan profit yang akan menguntungkan para shareholder. Namun, dari sudut pandang manajemen dan operasional, hal tersebut bisa menjadi sebuah masalah yang menghambat jalannya sebuah bisnis. 

 

Jenis-jenis Stakeholder

Dikutip dari Investopedia, secara umum stakeholder dibagi menjadi dua bagian, yaitu internal dan eksternal. Mereka memiliki peranan yang berbeda dalam bisnis.

Stakeholder internal adalah bagian yang terlibat langsung dengan urusan bisnis. Contoh stakeholder internal yaitu owner, pemegang saham, dan juga karyawan. Mereka adalah kelompok yang memiliki dampak besar terhadap sebuah proyek perusahaan.

Sementara itu, contoh stakeholder eksternal adalah pelanggan, pemasok, dan pemerintah. Meskipun tidak terlibat langsung, mereka tetap akan mempengaruhi jalannya suatu bisnis.

Sebagai contoh, pelanggan dapat mengubah kebiasaan membeli mereka, pemasok memungkinkan untuk mengubah praktik distribusi, dan pemerintah bisa saja mengubah undang-undang/peraturan yang berlaku dalam sebuah bisnis.

Pada akhirnya, mengelola hubungan dengan pemangku kepentingan internal dan eksternal adalah kunci keberhasilan bisnis jangka panjang.

 

Contoh Stakeholder dalam Bisnis Berdasarkan Jenisnya

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, dalam sebuah perusahaan atau bisnis terdiri dari dua jenis stakeholder. Berikut penjelasannya: 

 

contoh-stakeholder

 

A. Stakeholder Internal

Stakeholder internal adalah pihak yang memiliki kepentingan langsung dalam perusahaan, seperti pekerjaan, kepemilikan, atau investasi. Baca penjelasannya sebagai berikut:

1. Pemilik perusahaan (owner)

Sebagai salah satu stakeholder utama, owner atau pemilik bisnis memiliki peran yang besar bagi sebuah perusahaan. Umumnya, owner merupakan penanam modal tertinggi dalam sebuah bisnis yang dijalankan.

Gagasan dan keputusan bisnis yang dimiliki oleh owner akan sangat berpengaruh terhadap arah kebijakan perusahaan ke depannya.

2. Pemegang saham

Dalam aktivitas bisnis, pemegang saham, kepala eksekutif, dan dewan direksi termasuk ke dalam internal stakeholder dari sebuah perusahaan.

Biasanya mereka akan menjadi bagian penting terkait proyek besar yang dilakukan perusahaan seperti, pengawasan, pemberi saran, dan pengambilan keputusan. Sehingga dengan kata lain, pihak yang memiliki pengaruh tinggi selain pemilik perusahaan adalah pemegang saham itu sendiri.

3. Karyawan

Karyawan juga termasuk dalam stakeholder internal. Adapun karena mereka berinteraksi dengan pelanggan, mendapatkan uang untuk menghidupi diri  dan memberikan dukungan untuk operasi bisnis.

Karyawan memiliki tanggung jawab untuk menjalankan fungsi manajerial, pengawasan atau fungsi lainnya. Sehingga dari usaha yang telah dilakukan, mereka mengharapkan manfaat seperti insentif, pertumbuhan karir dan kepuasan kerja.

Ikuti kelas: Menyusun Model Bisnis untuk Memulai Bisnis Sebagai Pemilik Usaha

 

B. Stakeholder Eksternal

Stakeholder eksternal adalah mereka yang tidak secara langsung terlibat dalam perjalanan suatu bisnis, tetapi dapat mempengaruhi tindakan atau kebijakan yang akan diambil sebuah organisasi (perusahaan).

Beberapa contoh stakeholder eksternal adalah sebagai berikut:

1. Pelanggan

Sederhananya, pelanggan adalah pihak yang membeli produk dari sebuah bisnis. Dalam hal ini, setiap pelanggan tentu berharap agar para pelaku usaha dapat menciptakan produk dengan layanan yang baik serta berkualitas tinggi.

Maka dari itu, memperhatikan kebutuhan pelanggan merupakan salah satu faktor penting yang menunjang keberhasilan sebuah bisnis.

2. Suppliers/Vendor

Arti dari suppliers atau pemasok adalah pihak yang menjual bahan baku untuk diproduksi sebuah bisnis.

Tanpa adanya pihak pemasok, perusahaan tidak bisa melakukan produksi. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk menjaga hubungan dengan para supplier maupun vendor. 

Contoh, seorang penjual seafood membutuhkan suplai ikan, udang, sayuran, dan lain sebagainya. Jika hubungan sang owner dengan supplier rusak, maka akan terjadi hambatan dalam proses bisnis yang sedang dijalankan.

Baca Juga: Apa itu Vendor? Definisi, Tanggung Jawab, Cara Kerja, dan Jenisnya

3. Pemerintah

Instansi pemerintah juga dapat dianggap sebagai stakeholder dalam bisnis. Pasalnya, mereka adalah bagian dari kelompok yang mengatur segala macam regulasi.

Dalam hal ini, tanggung jawab pemerintah adalah mengatur undang-undang yang dapat mempengaruhi bisnis dan perusahaan.

Misal, pemerintah sudah menetapkan aturan mengenai pajak penghasilan perusahaan dan pajak yang harus dibayar para pekerja. Selain itu, aparatur pemerintah juga mendapat manfaat dari Produk Domestik Bruto (PDB) keseluruhan yang disumbangkan oleh perusahaan.

4. Masyarakat umum

Walaupun tidak terlibat langsung, tentunya masyarakat umum sangat akan sangat terpengaruh dengan berbagai aktivitas bisnis. Mulai dari  aspek penciptaan lapangan kerja, pembangunan ekonomi, kesehatan, hingga keselamatan.

Ketika perusahaan skala besar masuk atau keluar dari komunitas kecil, maka akan muncul  dampak langsung yang signifikan terhadap pekerjaan, pendapatan, dan pengeluaran di suatu daerah.

Bahkan, beberapa industri seringkali memberikan dampak kurang baik untuk kesehatan masyarakat umum. As we know, di Indonesia khususnya, terdapat berbagai aktivitas bisnis yang sangat berpengaruh terhadap lingkungan. Contohnya pabrik yang menghasilkan limbah dan mengotori air di sekitar perumahan warga. 

 

Peran dan Tugas Stakeholder

Secara umum, peran dan tugas stakeholder yaitu:

1. Mengarahkan manajemen

Para pemangku kepentingan seperti dewan direksi dapat membantu perusahaan dalam mengambil tindakan. Mereka mampu memberikan rekomendasi atau keputusan tertentu terhadap operasional sebuah departemen seperti layanan, sumber daya manusia, atau penelitian-pengembangan untuk dikelola agar bisa memastikan kesuksesannya.

2. Mendukung keuangan

Stakeholder seperti investor utama bisa kapan saja membawa atau mengambil uang mereka dari perusahaan. Dengan begitu, mereka akan bergantung pada kinerja dan finansial perusahaan.

Artinya, mereka dapat menekan kinerja perusahaan atau bahkan mengubah strategi bisnis (jika perlu) agar bisnis dapat berkembang dengan baik.

Baca juga: Mengenal Sistem Outsourcing Beserta Kelebihan dan Kekurangannya

3. Bantuan dalam pengambilan keputusan

Stakeholder utama seperti pemilik perusahaan atau dewan direksi memiliki kekuatan untuk mengambil dan mempengaruhi keputusan anggota dewan lainnya mengenai jalannya bisnis.

Para pemangku kepentingan ini juga memiliki kekuasaan untuk menunjuk manajemen tingkat senior. Oleh karena itu, mereka ada di semua bidang pengambilan keputusan utama. Misalnya pengambilan keputusan mengenai likuidasi dan juga akuisisi.

 

owner

(Sumber: Pexels - Sora Shimazaki)

4. Menjalankan operasional perusahaan

Seperti yang telah kamu ketahui, stakeholder seperti manajemen dan karyawan memiliki peranan penting untuk menjalankan semua rencana bisnis. Setelah disetujui oleh dewan direksi. Mereka memiliki tanggung jawab terhadap jalannya sebuah proyek bisnis.

5. Tanggung jawab sosial

Stakeholder bisa disebut juga berperan sebagai hati nurani dari perusahaan. Mereka dapat membuat perusahaan mematuhi undang-undang hak asasi manusia dan lingkungan. Mereka juga memantau dan bisa menentang keputusan yang diambil oleh bisnis, jika itu merugikan tujuan jangka panjang perusahaan.

Selain itu, tanggung jawab sosial (Corporate Social Responsibility) ini dapat dilakukan kepada para stakeholder lainnya seperti, karyawan, konsumen, pemasok, pemegang saham, hingga masyarakat dan lingkungan.

 

Langkah Membangun Hubungan Antara Stakeholder dan Perusahaan

Kesuksesan perusahaan dapat terwujud ketika terjalin hubungan yang baik antara stakeholder dan company itu sendiri. 

Berikut ini beberapa pola hubungan dinamis yang terjadi antara perusahaan dan para pemangku kepentingan:

1. Inactive (Hubungan tidak aktif)

Pada jenis hubungan ini, perusahaan akan membuat keputusan tanpa memperhatikan pihak lain seperti pemerintah, masyarakat, investor, bahkan pelanggan.

Perusahaan yang berada di fase ini akan lebih berfokus terhadap barang dan jasa yang mereka produksi serta penjualannya. 

2. Reactive (Hubungan yang reaktif)

Pada step ini, perusahaan akan menyadari bahwa mereka tidak dapat mengabaikan semua pemangku kepentingan. Tapi, perusahaan yang memasuki tahap reaktif bersedia untuk menanggapi stakeholder hanya karena terpaksa sehingga bersikap tidak profesional dan defensif.

Misalnya, perusahaan ABC meluncurkan produk baru berupa protein shake. Namun, sebagian besar stakeholder mendorong company untuk memotong kerugian mereka dengan cara menghentikan produk baru tadi.

Dalam hal ini, perusahaan akan bersikap setuju hanya karena ingin membungkam para stakeholder, bukan karena mereka yakin bahwa itu adalah ide yang bagus.

3. Proactive (Hubungan yang proaktif)

Dalam hubunganproaktif, perusahaan mulai mencoba untuk mengembangkan hubungan proaktif dengan para stakeholder. Company akan memberikan sebuah kebijakan yang bersifat terbuka, serta membantu stakeholder untuk berkomunikasi langsung dengan manajemen.

Tapi, gagasan yang diberikan para stakeholders pada perusahaan hanya dianggap sebagai sebuah problem yang harus dikelola (formalitas) semata.

4. Interactive (Hubungan yang interaktif)

Perusahaan harus memiliki hubungan yang interaktif dengan stakeholder jika ingin bisnisnya lancar dan berkelanjutan. Di tahap interactive, company akan sepenuhnya menyadari bahwa mereka perlu saling percaya dengan stakeholder.

Dengan begitu, tidak hanya menjalin koneksi dengan baik, tapi stakeholder dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif terhadap bisnis yang ingin dijalankan.

Itulah penjelasan mengenai apa itu stakeholder, khususnya dalam dunia bisnis. Bagi kamu yang ingin meningkatkan kemampuan untuk berkareir, langsung saja menuju Skill Academy. Karena di Skill Academy tersedia berbagai kelas pelatihan yang menarik. Jadi, ayo upgrade skill-mu sekarang!

Tingkatkan kualitas dengan ikut kelas di skill academy!

Referensi:

Corporatefinanceinstitute.com. (2020). Stakeholder. https://corporatefinanceinstitute.com/resources/knowledge/finance/stakeholder/ [Daring] (Diakses 15 November 2021)

Fernando, Jason. (2021). Stakeholder. https://www.investopedia.com/terms/s/stakeholder.asp [Daring] (Diakses 15 November 2021)

Minning, Lauren. (2021). The 10 Types of Stakeholders That You Meet in Business. https://www.activecampaign.com/blog/types-of-stakeholders? [Daring] (Diakses 15 November 2021)

Complianceprime.com. (2019). Role of Stakeholders in Business Organization. https://www.complianceprime.com/blog/2019/10/17/role-of-stakeholders-in-business-organization/ [Daring] (Diakses 15 November 2021)

Artikel ini pertama kali ditulis oleh Gulman Azkiya, lalu diperbarui oleh Intan Aulia Husnunnisa pada tanggal 8 Desember 2022.

Profile

Intan Aulia Husnunnisa

Hai! Aku Intan Aulia Husnunnisa, aku masih belajar nulis di Ruangguru. Terima kasih sudah baca tulisanku ya!

Beri Komentar