3 Cara Membuat Portofolio yang Menarik dan Profesional Agar Mudah Diterima Kerja

Hani Ammariah Mei 6, 2021 • 5 min read


cara membuat portofolio

Artikel ini memberikan tips cara membuat portofolio yang menarik dan profesional agar mudah diterima kerja. 

--

Apa yang membuat dirimu unggul dari pelamar yang lain?

Di zaman sekarang, latar belakang pendidikan dan nilai bukan lagi menjadi penentu kamu diterima kerja. Banyak sekali lulusan dari perguruan tinggi ternama yang memiliki predikat lulusan terbaik dan nilai sempurna. Mereka saling bersaing untuk mendapatkan satu atau dua posisi yang sama.  

Itulah mengapa, pertanyaan di atas perlu kamu siapkan jawabannya dengan baik saat mulai melamar suatu pekerjaan. Melampirkan Curriculum Vitae (CV) saja tidaklah cukup. Kamu perlu memberikan informasi lebih mengenai pengalaman, pencapaian, kemampuan, serta potensi yang kamu miliki. Nah, semua informasi tersebut bisa kamu cantumkan dalam bentuk portofolio. 

Portofolio adalah dokumen yang berisi riwayat pengalaman organisasi atau kerja, pencapaian (achievement), hingga kumpulan hasil karya yang pernah kamu buat. Untuk membuat portofolio yang menarik, kamu perlu menyusun sedemikian rupa supaya perusahaan dapat melihat kemampuan dan kualitas diri kamu. Tentunya, isi portofolio ini juga disesuaikan dengan pekerjaan yang ingin kamu lamar, ya. 

Lalu, gimana, sih, cara membuat portofolio yang menarik dan profesional agar lebih menarik rekruter? Yuk, simak tipsnya berikut ini!

 

Cara Membuat Portofolio yang Menarik dan Profesional

 

1. Cari tahu apa saja yang ingin kamu tunjukkan

Sebelum membuat portofolio, kamu harus menentukan terlebih dahulu mengenai apa saja yang ingin kamu tunjukkan ke perusahaan yang mau kamu tuju. Tidak semua hal yang telah kamu buat dan capai harus dimasukkan ke dalam portofolio, ya. Pilih beberapa hasil karya yang paling menunjukkan kemampuan dirimu dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan.  

Misalnya nih, kamu ingin melamar sebagai seorang graphic designer. Maka, kamu bisa membuat portofolio desain dengan mencantumkan skills yang kamu punya dan berhubungan dengan pekerjaan tersebut. Contohnya, kemampuan dalam menggunakan software desain, seperti Adobe Illustrator, Photoshop, Canva, CorelDraw, dan sebagainya. Hasil karya yang kamu lampirkan juga harus berhubungan. Contohnya, kamu bisa melampirkan gambar-gambar desain yang pernah kamu buat. 

Nah, kalau kamu punya skills lain di luar kemampuan utama sebagai seorang graphic designer, itu juga bisa dicantumkan, lho. Asal, kemampuan tersebut bisa menunjang pekerjaan kamu nantinya. Contohnya, kemampuan dalam membuat gambar 3D, motion graphic, atau typography.        

Baca juga: Dighosting HRD? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya 

 

2. Susun informasi ke dalam kategori

Karena portofolio merupakan kumpulan dari beberapa dokumen yang banyak, kamu perlu menyusunnya agar perekrut dapat menemukan informasi dengan mudah. Jadi, portofolio yang kamu buat bisa lebih menarik dan profesional. Caranya, kamu bisa kelompokkan informasi ke dalam beberapa kategori, seperti pernyataan pribadi, pengalaman organisasi atau kerja, contoh karya yang pernah kamu buat, sertifikat, dan referensi. 

Nah, untuk pernyataan pribadi, bisa kamu letakkan di bagian awal lembar portofolio. Isinya kurang lebih seperti CV, namun ini dibuat lebih ringkas. Umumnya, menjelaskan riwayat pendidikan terakhir, kelebihan, serta hal-hal yang kamu minati. 

Lalu, di lembar berikutnya, kamu bisa cantumkan pengalaman kerja. Jelaskan dengan lebih rinci mengenai hal apa saja yang kamu kerjakan. Jika kamu pernah menjalankan suatu projek, bisa juga dimasukkan untuk menambah poin plus portofolio kamu, lho. Nah, kalau kamu belum berpengalaman atau masih fresh graduate, bisa diisi dengan pengalaman organisasi yang pernah dilakukan di kampus, misalnya.       

Selanjutnya, kamu bisa lampirkan bukti-bukti pendukung berupa contoh hasil karya terbaikmu. Ini disesuaikan dengan jenis pekerjaannya, ya. Misalnya, kalau kamu melamar sebagai seorang writer, bisa melampirkan contoh tulisan yang pernah dibuat. Kalau melamar sebagai fotografer, bisa melampirkan kumpulan hasil foto. Selain itu, jika kamu pernah memenangkan suatu kompetisi atau mengikuti kelas pelatihan yang mendapatkan sertifikat, itu juga bisa dilampirkan. Tapi, balik lagi ke poin satu ya, pilih yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.    

Di lembar terakhir, kamu bisa lampirkan referensi atau testimoni terhadap karya yang kamu buat. Tujuannya, untuk menghindari penilaian secara subjektif. Nah, kamu bisa minta penilaian dari rekan kerja, atasan, atau klien. Kedua hal ini, bisa menjadi bahan pertimbangan perekrut terhadap kemampuanmu, lho.

 

3. Buat agar menarik secara visual

Desain portofolio juga perlu dipertimbangkan. Terlalu banyak memberikan ornamen dan warna pada desain portofoliomu justru akan mendistraksi perhatian perekrut. Buatlah sesederhana mungkin agar nyaman dilihat dan to the point. Fokus pada informasi yang ingin kamu sampaikan, bukan yang lain. Supaya tidak terlalu penuh atau padat informasi, kamu bisa memberikan link yang bisa mengarah ke deskripsi lengkap dan kumpulan karyamu yang lain. Selain itu, di era serba digital ini, banyak website yang bisa kamu gunakan untuk membuat portofolio secara online, lho. Jadi, jauh lebih simpel dan mudah diakses. 

Contoh perbandingan portofolio yang menarik dan kurang menarik. 

contoh portofolio yang kurang menarik dan profesional   

contoh portofolio yang menarik dan profesional

 

Nah, itu dia beberapa tips yang bisa kamu gunakan untuk membuat portofolio yang menarik dan profesional agar mudah diterima kerja. Layaknya CV, portofolio juga harus selalu up-date ya, supaya contoh karya yang kamu tampilkan bisa merepresentasikan perkembangan diri kamu dari waktu ke waktu. Oh iya, buat kamu yang ingin menambah skills untuk memperkaya CV atau portofolio, bisa lho ikutan pelatihan di Skill Academy. Kelas pelatihannya lengkap, bersertifikat, dan dibimbing oleh talent profesional. Yuk, klik banner berikut untuk mengetahui informasi lebih lanjut!  

Tingkatkan kualitas dengan ikut kelas di skill academy!

Referensi:

‘What Is a Work Portfolio? (Plus How to Build One)’ [Daring]. Tautan: https://www.indeed.com/career-advice/resumes-cover-letters/build-your-work-portfolio (Diakses pada: 3 Mei 2021)

Frost, A. ‘4 Secrets to Building a Portfolio That’ll Make Everyone Want to Hire You’ [Daring]. Tautan: https://www.themuse.com/advice/4-secrets-to-building-a-portfolio-thatll-make-everyone-want-to-hire-you (Diakses pada: 3 Mei 2021)

Profile

Hani Ammariah

Anaknya seneng ngitung, tapi nggak perhitungan. Dulu pernah kuliah di Institut Pertanian Bogor jurusan Matematika. Sekarang jadi tukang nulis a.k.a Content Writer di Ruangguru.

Beri Komentar