Apakah Kamu Termasuk? Yuk Kenali Toxic Positivity, Dampak, dan Tanda-tandanya

toxic-positivity-adalah

Hati-hati guys, jangan sampai kamu terjebak dalam toxic positivity. Simak artikel berikut untuk penjelasan lengkapnya.

Apakah kamu termasuk orang yang selalu optimis? Merasa dapat menangani semua masalah? Jika iya, hati-hati lho guys, jangan sampai kelewat batas. Hah, emang kenapa? Soalnya kamu nantinya malah bisa terjebak pada toxic positivity. Sederhananya toxic positivity adalah perasaan yang memaksa untuk terus merasa positif. Emang salah ya untuk selalu berpandangan positif? Nah, bagi kamu yang penasaran akan jawabannya, yuk simak artikel berikut.

Apa itu toxic positivity?

Dikutip Verywell Mind, toxic positivity adalah keyakinan bahwa tidak peduli seberapa parah atau sulitnya suatu situasi, orang harus mempertahankan pola pikir positif. Tidak ada yang salah dengan keyakinan untuk selalu berpandangan positif, malah dengan memiliki hal tersebut baik untuk kesehatan mental. Tapi bagaimana jika pola pikir positif tersebut malah membebani dirimu sendiri? Emang bisa ya?

Menurut Chloe Carmichael Ph.D. yang dikutip dari Psychology Today, toxic positivity terjadi ketika kepositifan tersebut mulai menghilangkan motivasi untuk membuat perubahan yang sehat, sehingga kesadaran akan kenyataan negatif dan tidak nyaman akan merangsang kita untuk melakukannya. Sederhananya sikap positif yang kamu tunjukkan tidak membawa dampak yang baik bagi dirimu.

Beberapa contoh toxic positivity misalnya seperti,

  • Kamu berada di lingkungan kerja yang sangat buruk dan benar-benar menguras emosimu. Namun, karena dengan alasan sulitnya mencari kerja, kamu meyakinkan dirimu dengan terus mengatakan

“Saya harus bersyukur, karena beruntung punya pekerjaan”

Alih-alih mendapatkan motivasi, kamu malah terjebak dan merasa terus menderita di lingkungan kerja yang berdampak buruk bagi kesehatan mentalmu.

  • Ketika berada dalam sebuah hubungan yang tidak sehat. Kamu sering mengalami kekerasan dan tak jarang pasanganmu memanipulasi bahwa yang menjadi sumber masalah adalah dirimu sendiri. Padahal yang menjadi korban kekerasan adalah dirimu. Dengan alasan bahwa kamu sudah lama berhubungan dan takut hubungan tersebut berakhir, kamu tetap bertahan.

“It’s okay, kamu bisa kok membantunya untuk menjadi pribadi yang lebih baik”

Namun, hal baik yang kamu niatkan tak kunjung terwujud. Di sisi lain, kamu terus mengalami perlakuan buruk dari pasanganmu.

Terkadang memang sulit untuk membedakan sikap positif dan toxic positivity. Menurut Tchiki Davis, Ph.D. kita sering terjebak pada pandangan “lihat sisi baiknya”. Pandangan tersebut bisa saja berasal dari saran orang-orang terdekat. Setelah mendengar kalimat tersebut mungkin kamu merasa mereka dapat mengurangi atau menyangkal perasaan negatif. Tapi kenyataannya hal tersebut bisa menjadi racun.

Padahal sebenarnya tidak masalah ketika kamu mengatakan “Hei, tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja.” Ini menunjukkan penerimaan emosi negatif kita serta kasih sayang dan rasa terima kasih. Pendekatan ini tidak toxic karena tidak menyangkal emosimu dan memaksa untuk merasakan sesuatu yang tidak ingin kamu rasakan.

Baca juga: Mengenal Pentingnya Self Healing dan Cara Melakukannya

Ciri-ciri toxic positivity

1. Selalu berusaha menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya

Jika kamu selalu berusaha menyembunyikan perasaanmu, mungkin bisa jadi kamu mengalami toxic positivity. Hal ini mungkin bisa disebabkan, karena kamu tidak terbiasa untuk mengekspresikan diri.

2. Mencoba untuk “melanjutkan saja” dengan menyingkirkan emosi negatif

Hal ini bisa kamu rasakan, jika kamu lebih memilih untuk terus melanjutkan sesuatu walaupun dalam kondisi yang buruk. Perasaan enggan untuk merasakan emosi negatif, memang dapat membantu. Namun, ketika perasaan tersebut tidak membawa perubahan yang baik, maka usaha tersebut bisa menjadi sia-sia.

ciri-ciri-toxic-positivity

3. Merasa malu ketika kamu memiliki emosi negatif

Tanda selanjutnya adalah kamu merasa malu ketika terlihat memiliki emosi negatif, seperti mengeluh, panik, atau tidak siap akan sesuatu. Kamu yang biasa menunjukkan optimisme akan enggan terlihat tidak berdaya karena situasi.

4. Kamu fokus pada aspek positif dari situasi yang menyakitkan

Selanjutnya, kamu selalu fokus untuk menunjukkan perasaan yang positif. Optimisme akan situasi sudah menjadi kepribadian yang kamu perlihatkan kepada orang-orang disekitarmu. Daripada berpengaruh pada situasi yang menyakitkan, kamu lebih memilih untuk membuat perasaanmu terlihat baik-baik saja.

5. Kamu tidak suka membiarkan orang melihatmu tidak bahagia

Sejalan dengan merasa malu ketika memiliki emosi negatif, ciri-ciri orang yang mengidap toxic positivity adalah tidak membiarkan orang lain melihat kamu bersedih atau tidak bahagia. Hal ini kemungkinan bahwa kamu beranggapan terlihat sedih atau tidak bahagia, menunjukkan sebuah kelemahan.

6. Memandang rendah orang yang mengekspresikan frustrasi atau emosi negatif lainnya

Ciri-ciri selanjutnya bisa dibilang cukup mengganggu, terutama orang-orang di sekitarmu. Ketika ada orang yang mengekspresikan energi negatif, kamu lebih cenderung menganggap mereka merupakan pribadi yang lemah. Kamu bahkan tidak ragu untuk menghakimi atas hal yang mereka alami.

Baca juga: Toxic People yang Perlu Kamu Hindari Di Tempat Kerja

Dampak toxic positivity

1. Menyebabkan rasa bersalah

Mungkin pada awalnya kamu bisa menghadapi situasi yang sedang dialami. Namun, lama kelamaan hal positif yang kamu paksakan tersebut bisa menimbulkan perasaan bersalah. Ini disebabkan kamu tidak kunjung menemukan cara untuk merasa positif secara jujur.

2. Mencegah bertumbuh secara emosional

Toxic positivity memungkinkan kamu untuk menghindari perasaan hal-hal yang mungkin menyakitkan. Hal ini berdampak pada kemampuanmu untuk menghadapi perasaan menantang yang pada akhirnya dapat mengarah pada pertumbuhan dan wawasan yang lebih dalam.

3. Meremehkan perasaan kehilangan

Karena selalu berfokus pada perasaan positif, tak jarang membuat orang dengan toxic positivity menganggap enteng apa yang dirasakan oleh orang lain. Padahal mengekspresikan kesedihan adalah normal dalam menghadapi kehilangan.

Nyatanya, ketika kamu bersikeras untuk menyampaikan pesan move on atau bahagia secepatnya kepada temanmu, mungkin malah menunjukkan seolah-olah kamu tidak peduli dengan kehilangannya.

4. Masalah komunikasi

Hal yang paling mudah untuk ditemui adalah  bahwa tidak semua orang memiliki pola pikir yang sama dengan dirimu. Alih-alih mereka setuju dengan saranmu untuk bersikap positif, mereka malah menjadi tidak nyaman dengamu.

Kondisi ini tentunya dapat mengganggu dan menjadi masalah komunikasi. Karena toxic positivity mendorong orang untuk mengabaikan perasaan yang sebenarnya dan fokus pada hal positif. Pendekatan ini dapat menghancurkan komunikasi dan kemampuan untuk memecahkan masalah hubungan.

5. Membuatmu kurang menghargai diri sendiri 

Setiap orang terkadang mengalami emosi negatif. Toxic positivity mendorong orang untuk mengabaikan emosi negatif mereka, meskipun menahannya dapat membuat mereka merasa lebih kuat. Namun, ketika situasi lebih buruk dan tidak dapat membantu untuk merasa positif, mereka mungkin merasa seolah-olah mereka gagal. Bahkan yang paling parah merasa kecewa akan dirinya sendiri.

Cara menghindari toxic positivity

Dikutip dari Psychology Today, untuk menghindari, cobalah untuk mengakui, menerima, dan membingkai ulang emosi negatif. Misalnya, alih-alih memaksakan berpikir positif, katakan sesuatu seperti bahwa “memang ini yang saya rasakan”

Selain itu, cobalah jujur pada dirimu sendiri. Ada kalanya memang kamu harus benar-benar merasakan perasaanmu seutuhnya. Mungkin sesekali tidak ada salahnya menjadi tidak baik-baik saja. Dengan melakukan hal ini, kamu tidak akan terbebani karena menyangkal perasaanmu yang sebenarnya.

 

Itulah penjelasan mengenai toxic positivity. Hal ini semestinya dapat kamu perhatikan. Apalagi bagi kamu yang sedang membangun karier. Oh iya, jika kamu berencana meningkatkan kemampuan untuk dunia kerja, kamu bisa lho mengunjungi Skill Academy. Karena di Skill Academy kamu bisa mengikuti berbagai kelas menarik dengan materi yang tentunya sudah disesuaikan dengan kemampuanmu.

SKill Academy - CTAReferensi

Cherry, Kendra. (2022). What Is Toxic Positivity? https://www.verywellmind.com/what-is-toxic-positivity-5093958#toc-why-toxic-positivity-is-harmful [Daring] (Diakses 1 November 2022)

Gouveia, Alexandria. (2022). Toxic positivity: 10 signs you’re living with it and how to break the cycle. https://www.thenationalnews.com/lifestyle/wellbeing/2022/04/27/toxic-positivity-10-signs-youre-living-with-it-and-how-to-break-the-cycle/ [Daring] (Diakses 1 November 2022)

Psychologytoday.com. (2022). Toxic Positivity. https://www.psychologytoday.com/us/basics/toxic-positivity [Daring] (Diakses 1 November 2022)

Razzetti, Gustavo. (2021). The Antidote to Toxic Positivity. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-adaptive-mind/202107/the-antidote-toxic-positivity [Daring] (Diakses 1 November 2022)

Villines, Zawn. (2021). What to know about toxic positivity. https://www.medicalnewstoday.com/articles/toxic-positivity [Daring] (Diakses 1 November 2022)

Gulman Azkiya