Hustle Culture: Yang Salah dari Bangga Bekerja Berlebihan

Salsabila Nanda Mar 25, 2021 • 9 min read


pengertian hustle culture

Hustle culture (bekerja berlebihan) beberapa waktu ini banyak jadi tren. Tapi, apa itu baik bagi kesehahtan? Yuk cari tahu dampak dan cara menguranginya!

---


Remember when Ariana Grande said..

Almost is never enough,

Do you really feel that

Delapan (atau mungkin belasan jam) di depan laptop, bolak-balik switch tab agar bisa hadir di meeting yang bersamaan, tumpukan email yang tak sempat dibaca, dan masih menganggap bahwa dirimu belum bekerja keras sepanjang hari?

Welcome to Hustle Culture!

Apa sih Hustle Culture itu?

Pengertian Hustle Culture

Dalam bahasa Indonesia, kata “hustle” diartikan sebagai “semangat yang meluap”. Sedangkan hustle culture adalah budaya yang mendorong seseorang untuk bekerja tanpa henti kapan pun dan di mana pun. Karir dianggap sebagai aspek terpenting dalam hidup yang diperoleh melalui kerja keras. Penganut hustle culture percaya bahwa apa yang ia lakukan tak pernah cukup untuk mencapai kesuksesan. 

apa itu hustle culture

Ciri Hustle Culture

Mereka yang terjerat dalam hustle culture dinamakan hustlers. Selintas terdengar keren meskipun sebenarnya mengkhawatirkan. Mengapa demikian? Hustlers selalu termotivasi untuk mencapai kesuksesan di usia muda. Dalam prosesnya, tak jarang mereka kerja mati-matian hingga larut malam, mengambil side job, hingga mengabaikan waktu istirahat.

Ciri utama dari seorang hustlers yakni merasa bersalah apabila waktunya diisi dengan refreshing atau istirahat. Segala hal yang mereka kerjakan harus berhubungan dengan pekerjaan. Semakin banyak bekerja, semakin dekat jalan untuk mewujudkan ambisi. 

Hustlers berpendapat bahwa mereka adalah kumpulan orang produktif. Padahal, keduanya jelas berbeda. Produktivitas diartikan sebagai cara menghasilkan output yang berkualitas dalam waktu singkat, sedangkan hustlers berusaha bekerja dalam durasi yang panjang, tanpa memperhatikan kualitas output yang berhasil diraih. 

Budaya ini juga berdampak terhadap penurunan kreativitas individu. Menurut Dr. Jeanne Hoffman, psikolog dari UW Medicine, bekerja lebih dari 50 jam per minggu justru melumpuhkan produktivitas dan inovasi seseorang.

Yang terakhir, hustlers tak mau tertinggal di belakang. Mereka selalu belajar, bekerja dan mengorbankan segalanya untuk sampai di garis puncak. Meskipun tujuannya baik, hustle culture membuat orang tak peduli lagi dengan kesehatan fisik dan mental.

Duh, semoga kamu bukan termasuk hustlers, ya..

Penyebab Hustle Culture

Hustle Culture tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kebiasaan/budaya tersebut itu muncul. Hmm...apa saja ya penyebabnya?

1. Teknologi

Kemajuan teknologi jadi penyebab hustle culture menyebar dengan cepat. Smartphone yang kamu miliki tak hanya berfungsi untuk berkomunikasi, melainkan sarana untuk bekerja. Mengirim email, menyusun presentasi, video call dengan atasan, hingga mengadakan diskusi antar tim bisa dilakukan dalam aplikasi yang tersedia di ponsel. 

Baca juga: Alasan Kita Ketagihan Main Smartphone

Tanpa disadari, deretan aplikasi tadi membuat seseorang bekerja terus menerus. Kemudahan dalam menjalankan urusan kantor berubah menjadi rasa cemas, takut, dan mendorong individu untuk bekerja sepanjang waktu. 

2. Konstruksi Sosial

Jabatan dan finansial telah menjadi tolak ukur kesuksesan hidup. Semakin melejit karir seseorang, otomatis hidupnya semakin mapan. Siapa yang berhasil membeli aset di usia muda, akan menjadi patokan bagi orang-orang di sekelilingnya, termasuk dirimu.

Alhasil, kamu jadi terpacu untuk menghasilkan uang sebanyak-banyaknya agar bisa membeli rumah, kendaraan atau sekedar meningkatkan taraf hidup. Meskipun tujuannya baik, hal ini tak selamanya benar. Budaya “hustle” memaksa seseorang untuk bekerja mati-matian demi menyandang titel sukses dari lingkungan sekitar. 

3. Toxic Positivity

Menurut Dr. Jaime Zuckerman, Psikolog Klinis di Pennsylvania, toxic positivity adalah dorongan untuk tetap berasumsi positif walaupun sedang mengalami situasi tertekan. Asumsi ini bersumber dari dalam hati atau perkataan orang di sekitar. Seringkali kita merasa lelah karena pekerjaan yang menumpuk. Alih-alih berhenti, malah muncul kalimat seperti:

“Jangan nyerah, kamu pasti bisa. Ayo kerja lagi!”

“Masa gitu aja capek? Kapan suksesnya?”

Atau quote yang tampak pada gambar di bawah ini

quotes hustle culture

(Contoh quote toxic positivity. Sumber: livegreatquotes.com)

Toxic positivity semakin berkembang selama pandemi COVID-19. Kondisi ekonomi yang memburuk mendorong orang untuk bekerja lebih giat demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tak sedikit dari mereka yang mengalami stres, tetapi enggan meluapkan emosinya. Toxic positivity memaksa manusia untuk tetap tegar dalam situasi tersulit sekalipun. Pada akhirnya, kesehatan mental pun jadi terabaikan. 

Baca juga: Toxic People yang Harus Kamu Hindari di Tempat Kerja

Dampak dari Hustle Culture

Setidaknya ada 4 (empat) dampak bagi seseorang yang sudah terjerat oleh Hustle Culture. Berikut penjelasan selengkapnya.

1. Kehilangan Work Life Balance

Work Life Balance adalah keseimbangan antara karir dan kehidupan pribadi. Menghabiskan waktu bersama keluarga, pasangan, maupun teman dapat mengurangi tingkat stres akibat pekerjaan. Sosialisasi berpengaruh terhadap kebahagiaan seseorang. Dilansir dari inc.com, kebahagiaan dapat meningkatkan kreativitas dan menghasilkan energi positif.

Sebaliknya, obsesi kerja yang berlebihan berdampak terhadap penurunan aktivitas sosial. Dari pagi ke pagi, hidupmu selalu berkutat dengan deadline. Tak ada teman bicara untuk berbagi keluh kesah, karena tenggelam di antara tumpukan pekerjaan.

2. Burnout Syndrome

Menurut World Health Organization (WHO), burnout adalah kondisi stres kronis akibat pekerjaan yang ditandai dengan rasa lelah, frustasi dan sulit berkonsentrasi. Gejala burnout tidak terjadi pada semalam, melainkan dialami secara bertahap. Burnout disebabkan oleh banyaknya tanggung jawab yang dipikul, lingkungan kantor yang buruk serta kehilangan dukungan sosial. 

Baca Juga: Tanda-tanda Kamu Burnout di Tempat Kerja

3. Kurang Bersyukur

Salah satu ciri hustlers adalah tak mau tertinggal dari pencapaian orang lain. Sebisa mungkin harus berada di posisi sama. Karir dan finansial merupakan 2 hal yang selalu mereka kejar. Bukannya mensyukuri apa yang ada saat ini, malah terus mencari duniawi.

Dengan semangat kerja yang menggebu-gebu, hustler mudah iri dengan kesuksesan orang lain. Hal ini sebenarnya bagus, karena mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang selalu berkembang. Akan tetapi,  hustler tidak mau berhenti sebelum ia menjadi orang yang paling sukses di lingkungannya. 

4. Menyusahkan Rekan Kerja

Kenapa nggak angkat telepon saya semalam?” ujar seorang Manager di suatu pagi. Padahal, semalam yang dimaksud adalah pukul 2 dini hari saat kamu sedang tertidur akibat lembur. Pernah menghadapi situasi seperti ini? Tarik napas dulu yuk..

Baca Juga: Tips Berhenti Jadi People Pleaser di Kantor

Bisa jadi manager di kantormu adalah seorang hustler. Tak hanya merugikan diri sendiri, penganut budaya ini juga merugikan rekan satu tim. Mereka memaksa orang lain untuk bekerja dengan intensitas yang tinggi. Seringkali hustler memberi pekerjaan pada rekannya di jam istirahat atau hari libur.

Itu dia pembahasan singkat mengenai hustle culture. Apakah kamu termasuk orang seperti kriteria di atas? Tak perlu berlebihan dalam mengejar ambisi, sesuaikan dengan porsi kemampuan diri sendiri. 

Kalau sedang mencari kelas peningkatan hard skills maupun soft skills, kamu bisa lho cobain kelas-kelas pelatihan dari Skill Academy. Materinya mudah dipahami dan disampaikan oleh profesional di bidangnya. 

Tingkatkan kualitas dengan ikut kelas di skill academy!

Referensi:

Hustle Culture [Daring]. Tautan: https://www.economica.id/2020/09/08/hustle-culture-tren-bagi-si-penggiat-kerja/ (diakses  21 Maret 2020)

https://blog.runrun.it/en/hustle-culture/ (diakses  21 Maret 2020) 

Munculnya Hustle Culture [Daring]. Tautan: https://www.maize.io/magazine/rise-grind-hustle-culture/ (diakses  21 Maret 2020)

Bahaya Hustle Culture [Daring] Tautan: https://rightasrain.uwmedicine.org/life/work/hustle-culture (diakses  21 Maret 2020)

Profile

Salsabila Nanda

Anak broadcasting yang cita-citanya mau jadi PR, tapi malah jadi content writer. Siang kerja, malam nonton teen drama. Terima kasih sudah baca tulisanku!

Beri Komentar